Perencanaan penerbitan konvensional
Perencanaan penerbitan konvensional
Mengutip dari Harold Koontz dan O`donnell merumuskan
perencanaan sebagai fungsi manajer di dala, memilih alternatif alternatif,
tujuan tujuan, program program karena ada kata memilih, tenntunya ada tersedia lebih dari satu alternatif, tujuan,
dan program. Dalam menyusun perencanaan ada beberapa prinsip yang penting untuk
diperhatikan. Sukarna (1992:10-12) menyebutkan 14 prinsip perencanaan, yaitu
sebagai berikut
1. Memantu
pencpaian tujuan
2. Efisiensi
perencanaan
3. Keutamaan
perencanaan
4. Pemerataan
perencanaan
5. Patokan
perencanaan
6. Kebijakan
kerangka kerja
7. Waktu
8. Komunikasi
perencanaan
9. Alternatif
10. Pembatasan
11. Keterikatan
12. Fleksibilitas
13. Peruahan
navigasional
14. Perencanaan
strategis.
Sukarna menyampaikan bahwa perencanaan adalah
sebagai berikut.
1. Fungsi
utama manajer
2. Diarahkan
pada tercapainya tujuan
3. Didasarkan
pada fakta ojektif dan rasional
4. Mengandung
atau dapat memproyeksikan kejadian kejadian pada masa datang
5. Memikirkan
dengan matang aanggaran, program, kebijakan metode, dan standart untuk mencapai
tujuan
A.
Perencanaan
penerbitan
Program penerbitan itu bisa terdiri atas kegiatan
penerbitan konvensional dan digital dalam bentuk terbitan berkala dan non berkala.
Untuk memudahkan pengerjaannya, biasanya kita dapat
menggunakan tael berikut ini
No
|
pertanyaan
|
Deskripsi
|
1
|
Apa
|
Apa
yang hendak diterbitkan?
|
2
|
Mengapa
|
Apa
alasan dilakukan penerbitan?
|
3
|
Bagaimana
|
Dengan
cara apa konvensional atau digital atau keduanya?
|
Memang ada juga yang menggunakan pendekatan 5w+1h
untuk perencanaaan misalnya untuk kegiatan penerbitan kita bertanya apa yang
kita terit, mengapa diterbitkan, kapan penerbitannya dilakukan, siapa saja yang
menangani dan dilibatkan dalam penerbitan itu, dimana akan menerbitkanya
bagaimana kita menerbitkannya. Namun untuk pembahasan kita dalam menetapkan
tujuan, kita menjawab saja 3 pertanyaan kunci seperti yang tampak pada tabel
diatas.
Tentu saja, perencanaan untuk kegiatan penerbitan
atau program peneritan akan berbeda dengan perencanaanlembaga penerbitan. Tentu
saja perencanaan lembaga penerbitan seperti ini akan berbeda dengan perencanaan
program penerbitan. Perencanaan penerbitan merupakan jangka panjang yg terdiri
darisejumlah program, misalnya program penerbitan berkala dan penerbitan
nonberkala.
Berdarkan tujuan tersebut maka kita akan isa
menyusun rencana apa saja yg kita perlukan untuk mewujudkan tujuan penerbitan
kalawarta itu. Kita menyusun rencan untuk sumbber daya manajemen yg diperlukan
untuk menghasilkan produk yang menjadi tujuan kita yakni kalawarta yang
diyakini menjadi wahana informasi muthakhir antara perpustakaan dan anggota
anggotanya.
Perencanaan
sumber daya penerbitan
Erdasarkan sumber sumber daya yg kita perlukan untuk
mencapai tujuan kita yaitu menyelenggarakan penerbitan, bisa kita lihat pada
tabel di pertama. Tabel tersebut
menjelaskan kembali sumber sumber daya manajemen, yang sudah kita bahas pada
modul pertama. Kita bisa menyusun rencana untuk masing masing sumber daya
tersebut seperti dikemukakan melalui visualisasi berikut
1.
Man
|
Perencanaan
sumber daya manusia
|
2.
Money
|
Perencanaan
anggaran
|
3.
Matherials
|
Perencanaan
bahan/material
|
4.
Machine
|
Perencanaan
sarana dan prasarana
|
5.
Method
|
Perencanaan
metode
|
6.
Market
|
Perencanaan
pemasaran
|
Dalam membahas perencanaan penerbitan tersebut,
sekali lagi kita bisa memandang kegiatan
penerbitan sebagai program atau sebagai kegiatan/ proyek yang artinya akan ada
sejumlah peneritan didalamnya baik
berupa berkala maupun non berkala dalam jangka waktu tertentu.
Sedangkan apabila kita memandang penerbitan sebagai
proyek maka kita memfokuskan hanya pada satu bentuk penerbitan saja. Tentu saja
ada peredaan perencanaan antara penerbitan seagai program dengan penerbitan
sebagai kegiatan. Pada perencanaan penerbitan sebagai program. Kegiatan/ proyek
memang meruoakan kelanjutan dari program. Karena program hanya bisa terlaksana
bila ada sejumlah kegiatan yang dilakukan. Oleh sebab itu itu kita akan
mempelajari bagaimana prencanaan program yang di dalamnya dengan sendirinya
kita juga membahas perencanaan kegiatan proyek penerbitan tersebut.
Pada lingkaran internal, perpustakaan memiliki
kekuatan sudah memiliki kepakaran dan kemampuan mengelola informasi. Tetapi,
tidak bisa menutup mata terhadap adanya kelemahan dalam mengeloal informasi
mutakhir yang begitu banyak sehingga menyulitkan pengguna perpustakaan sendiri.
Berdasarkan analisis di atas, maka kits bisa membuat perencanaan program
penerbitan yang komprehensif yang kegiatannya bukan hanya penerbitan iliografi
secara konvensional namun juga secara digital.
Selanjutnya kita bisa menyusun perencanaan tersebut
secara lebih utuh, dan tentu komprehensif, kita isa melihat contoh seperti yang
divisulisasikan berikut ini.
Berdasarkan tujuan tersebut kita isa melakukan perencanaan
terhadap penggunaan sumber sumber daya yg dimiliki atau yg akan dipergunakan
unutuk mencapai tujuan tersebut. Dengan mengacu pada gambar diatas.
Dalam perencanaan sumber daya manusia kita akan menginventarisasi
dulu kegiatan penerbitan yang alurnya sudah kita pelajari pada modul 3.
Berdasarkan alur terseut, maka kita akan memperoleh nama nama jabatan yang
bertanggung jawab untuk menyelesaikan
tahapan pekerjaan tersebut.
Tabel
4.2
Nama
Jabatan dan Kompetensinya
No
|
Nama
Jabatan
|
Kompetensi
|
1
|
Redaksi
|
Mampu menilai kelayakan naskah
untuk diterbitkan mampu berfikir kebutuhan informasi pembaca
|
2
|
Editor
|
Mampu melakukan penyuntingan
bahasa terhadap naskah
Mampu menulis dalam bahasa yang
efektif
Memiliki pengetahuan bahasa
yang baik
Mampu mengoperasikan computer
|
3
|
Desainer
|
Mampu membuat desain sampul
Mampu membuat tata letak isi
Mampu membuat ilustrasi buku
Mampu mengopersikan program
computer untuk desain
|
4
|
Proofreader
|
Mampu membaca dengan cermat dan
teliti
Menguasai pengetahuan penulisan
kata
|
5
|
Setter
|
Mampu Mengoperasikan computer
Mampu menulis dengan cepat
|
Selanjutnya
kita bisa mengidentifikasi ada berapa orang dalam organisasi perpustakaan yang memiliki
kompetensi seperti yang di kemukakan pada Tabel 4.2. Kita pun bisa meracang
jabatan apa yang bisa dirangkap oleh seseorang. Misalnya, untuk redaksi
dirangkap editor atau penyunting. Setter bisa merangkap proofreader.
Permasalahannya,
bila perpustakan ternyata tidak memiliki tenaga dengan kompetensi seperti yang
diperlukan. Untuk menyelesaikan masalah ini kita bisa mengambil tenaga dari
luar (outsourcing) yang di kontrak untuk menyelesaikan tugas yang menjadi
tanggung jawab jabatan itu.
Selanjutnya,
tentu akan dibutuhkan sarana dan prasarana yang akan kita pergunakan untuk
kegiatan penerbitan, baik berkala maupun non berkala. Paling tidak kita akan
membutuhkan ruang kerja dan perlengkapanya seperti kursi dan meja seperti
computer. Bisa saja, tidak memerlukan ruang khusus untuk mengerjakan proses
penerbitan melainkan dilakukan di ruang kerja sehari - hari.
Semua
sarana dan prasarana kerja itu tentu akan kita rencanakan sesuai dengan
kegiatan penerbitan berkala, Namun bila penerbitnya baru menerbitkan nonberkala
yang tidak teratur, kita berarti harus mempergunakan perlengkapan yang tersedia
sebaik mungkin.
Metode
pelaksanaa pekerjaannya, seperti sudah dikemukakan bergerak dari proses
pracetak, cetak dan diakhiri dengan pascacetak. Dengan begitu, maka kegiatan
dijalankan sesuai dengan urutan prosesnya. Oleh sebab itu, dalam penyusunan
jadwal kerja sebagai bentuk rencana kerja akan mengacu pada urutan prose itu.
Tidak bisa proses sesudahnya mendahului proses sebelumya seperti melakukan
kegiatan cetak sebelum pracetak diselesaikan.
Metode
kerjanya pun melibatkan sejumlah keterampilan yang satu sama lain berkaitan dan
bergantung. Penyuntingan akan terkait dengan tata letak isi buku. Begitu juga
dengan tata muka buku pembuatannya akan bergantung pada judul yang dibuat
penulis yang kemudian bisa saja judul itu diperbaiki dan disempurnakan oleh
penuynting.
Sedangkan
Materials atau bahan yang diperlukan untuk penerbitan itu yang terpojok
tentulah naskah yang akan diterbitkan. Naskah ini bisa datang dari penulis luar
institusi perpustakaan bisa juga datang dari penulis yang ada pada perpustakaan
tersebut.
Tentu
juga bahan lain yang diperlukan adalah kertas. Pada penerbitan konvensional,
medium yang dipergunakan untuk menyimpan dan menyebarluaskan isi terbitan bersifat
tunggal yaitu kertas. Namun, bila kita menerbitkan dengan menggunakan jasa
percetakan di luar institusi perpustakaan, maka biaya cetak biasanya sudah
diperhitungkan dengan biaya untuk pembelian kertas, sehingga kita bisa
memasukkan jasa percetakan ke dalam
kategori bahan.
Dana
merupakan sumber daya lain yang perlu kita perhatikan, sehingga kita akan
menyusun rencana anggaran untuk program tersebut akan sangat bergantung dari
sumber daya lain yang kita pergunakan.
Dana
juga akan diperlukan untuk kegiatan pemasaran yakni mendistribusikan hasil
terbitan. Memang bisa saja ada kegiatan mendistribusikan yang tak memerlukan
dana seperti membagikan begitu saja hasil terbitan pada pengunjung yang datang
ke perpustakaan.
Adapun
pemasaran pada dasarnya merupakan pendistribusian hasil terbitan kepada orang
yang memerlukannya. Karena itu, distribusi di sini bukan sekedar menyebarkan
melainkan merupakan penyebaran pada orang yang dianggap tepat. Tepat disini
bermakna orang yang memerlukan informasi
terbitan.
B. PERENCANAAN PENGENDALIAN PENERBITAN
Sukarna menyebutkan pengendalian
memiliki makna membimbing, menertibkan, mengatur & menguji kebenaran.
Prinsip2 pengendalian dlm penerbitan :
1. Tercapainya
tujuan
2. Efisiensi
pengawasan
3. Refleksi
perencanaan
4. Standar
5. Tindakan
Pakar manajemen termasyur, Terry
menyatakan bahwa pengawasan dpt dirumuskan sbg proses menentukan apa saja yg
sdh diselesaikan, & apakah sesuai dgn standar yg ditetapkan, apa saja yg
sdh dituntaskan, apakah baik kinerjanya, shg dilakukan evaluasi kinerja, &
jika diperlukan dilakukan tindakan koreksi shg kinerja sesuai dgn rencana yg
berarti sesuai dgn standar yg ditetapkan.
Empat komponen proses pengawasan :
1. Penetapan
standar, yg mencerminkan apa yg kita inginkan dr apa yg kita lakukan
2. Mengukur
kinerja, berarti melihat apa yg kita lakukan
3. Perbandingkan
kinerja dgn standar, kita bandingkan apa yg sdh dilakukan dgn apa yg kita
harapkan
4. Melakukan
perbaikan
Tiga bentuk
kegiatan yg berkaitan dgn pengendalian (Husen) adalah :
a. Supervisi,
yaitu melakukan serangkaian kegiatan koordinasi pengawasan dlm batas wewenang
& tanggungjawab menurut prosedur organisasi agar operasional dpt dilakukan
scr bersama-sama olh smua personel dgn kendali pengawas.
b. Inspeksi,
melakukan pemeriksaan thd hsl pekerjaan dgn tujuan menjamin spesifikasi mutu
& produk sesuai dgn yg direncanakan.
c. Tindakan
Koreksi, melakukan perubahan & perbaikan thd rencana yg tlh ditetapkan utk
menyesuaikan dgn kondisi pelaksanaan.
Sedangkan
perbandingan antara standard an kinerja biasanya direncanakan untuk dibuat
dalam bentuk laporan tertulis. Laporan ini menyampaikan standar yang ditetapkan
misalnya untuk pracetak, cetak, dan poscetak. Lalu kita menyusun instrument
pengendalian yang membandingkan antara apa yang di standarkan dengan apa yang
sudah dicapai. Seberapa jauh kesenjangannya, lalu tindakan apa yang kita perlu
lakukan untuk memperbaikinya. Untuk contohnya, kita lihat ilustrasi berikut.
No
|
Tahapan Proses
|
Perbandingan
|
||
!
|
Pracetak
|
Ideal/Standart
|
Kinerja/Faktual
|
|
1
|
Editing
naskah
|
Selesai
10 hari kerja siap proses selanjutnya tanpa ada salah tulis.
Bahasa
sederhana dan komunikatif
|
Selesai
dalam 7 hari
Masih
ada salah tulis
Belum
semua bagian buku berbahasa komunikatif
|
|
2
|
Ilustrasi
|
Cermin
isi buku
Tidak
lebih dari 10 buah
Warna
hitam putih
|
Ilustrasi
terlalu banyak
|
|
3
|
Desain
sampul
|
Selesai
3 hari kerja
Berwarna
Menonjolkan
judul terbitan
|
Selesai
7 hari
|
|
4
|
Tata
letak
|
Bergaya
minimalis
Nyaman
dibaca
Huruf
ukuran 9 pt
|
Nyaman
dibaca
|
|
!!
|
Cetak
|
|||
Kualitas
cetak
|
Tinta
hitam
Cetakan
terang
Kertas
HVS
|
Baik
|
||
Penjilidan
|
Jilid
Lem
|
Baik
|
||
!!!
|
Poscetak
|
|||
Distribusi
|
Distriburi
selesai dalam 3 minggu
|
Belum
terdistribusikan semua
|
||
Gambar
4.3
Contoh
Lembaran Pengendalian
Tentu
saja, makalah kita membuat perencanaan pengendalian, yang kita buat barulah
kolo standart. Pada saat pelaksanaan berulah kita bisa mengisi kolom
factual/kinerja. Paling tidak, ada 3 bentuk kegiatan yang berkaitan dengan
pengendalian, seperti yg dijelaskan husen (2009:4), yaitu sebagai berikut.
1. Supervisi,
yaitu melakukan serangkaian tindakan koordinasi pengawasan dalam batas wewenang
dan tanggung jawab menurut prosedur organisasi
2. Inspeksi,
melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan dengan tujuan menjamin
spesifikasi mutu dan produk sesuai dengan yg direncanakan.
3. Tindakan
koreksi, melakukan perubahan dan perbaikan terhadap rencana yg telah ditetapkan
untuk menyesuaikan dengan kondisi pelaksanaan.
Pada titik Lngkah perbaikan dan umpan
balik bagi manajemen iilah maka peran kepemimpinan mnjadi penting. Oleh sebab
itu dalam perencanaan pengendalian akan dimasukan pula rencana untuk menggali
informasi melalui saluran komunikasi informal. Misalnya mengidentifikasi
saluran komunikasi informal yg ada agar memperoleh informasi yg berimbang dan
akurat. Informasi formal diperoleh melalui komunikasi informal itu saling
melengkapi. Bukan saling membantah atau mematahkan.
Comments
Post a Comment